AIBI
← Semua artikel
Foto artikel AIBI 2026 Ajak Bangun Ekosistem Inkubator Bisnis Nasional lewat Kolaborasi Lintas Sektor

18 May 2026

AIBI 2026 Ajak Bangun Ekosistem Inkubator Bisnis Nasional lewat Kolaborasi Lintas Sektor

Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) 2026 secara hybrid pada Rabu (13/05/2026). Kegiatan yang berlangsung di kantor baru AIBI ini diikuti oleh peserta dari berbagai wilayah Indonesia dan menjadi momentum penting dalam penguatan ekosistem inkubator bisnis serta inovasi nasional.

Rakornas AIBI 2026 dihadiri oleh Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, SE., M.Ec., Deputi Utusan Khusus Presiden Bidang UMKM, Ekonomi Kreatif dan Digital, Ery Punta Hendraswara, S.T., M.M., MBA., serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Peserta yang hadir secara langsung berasal dari Makassar, Yogyakarta, serta perwakilan dari Universitas Multimedia Nusantara (UMN) dan Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Sementara itu, peserta daring bergabung dari berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Acara ini juga menghadirkan perwakilan komunitas muda, yaitu CEO Youth Ranger Indonesia dan Founder Trash Ranger Indonesia, Dimas Dwi Pangestu, sebagai bagian dari upaya memperkuat konektivitas antara ekosistem inkubator bisnis dengan gerakan inovasi berbasis komunitas.

Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia merupakan asosiasi inkubator bisnis nasional yang telah berdiri selama 30 tahun. Saat ini, AIBI memiliki lebih dari 200 anggota lembaga inkubator yang tersebar di lebih dari 30 provinsi di Indonesia dan aktif mendorong penguatan ekosistem inovasi serta kewirausahaan di tingkat nasional maupun internasional.

Membuka Narasi Baru Inovasi Indonesia

Kegiatan diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars AIBI, kemudian dilanjutkan dengan pemaparan agenda strategis pengembangan ekosistem inkubator bisnis nasional.

Ketua Asosiasi Inkubator Bisnis Indonesia (AIBI), Catur Sugiarto, S.E., M.SM., M.Rech., Ph.D., CDMP., menyampaikan bahwa AIBI yang berdiri 30 tahun lalu di Solo awalnya hanya beranggotakan enam inkubator bisnis dari IPB, UNS, UNPAD, dan ITS. Kini, organisasi tersebut telah berkembang menjadi jaringan nasional dengan lebih dari 200 anggota inkubator.

"Lebih dari 60 persen anggota kami adalah perguruan tinggi. Kami hadir untuk menjembatani percepatan inovasi melalui kerja sama multipihak, mitra internasional, serta integrasi dengan berbagai program nasional," ujar Catur.

Salah satu isu strategis yang dibahas dalam Rakornas adalah fenomena valley of death, yaitu tantangan dalam proses transisi hasil riset menuju tahap komersialisasi dan pasar.

Catur menjelaskan bahwa kesenjangan antara riset dan komersialisasi masih menjadi pekerjaan rumah besar dalam pengembangan inovasi nasional.

“Mencari jalan keluar dari valley of death menjadi tantangan dari tahun ke tahun. Karena itu, kami terus mendorong penguatan ekosistem inovasi melalui kolaborasi, pendampingan, dan pengembangan inkubator bisnis agar hasil riset siap masuk ke tahap komersialisasi dan mampu menjawab kebutuhan pasar,” tegasnya.

Dalam penguatan jejaring global, AIBI juga aktif berpartisipasi dalam asosiasi internasional seperti Asian Association of Business Incubation serta membangun kolaborasi inovasi dengan berbagai mitra strategis di kawasan Asia.

Sebagai bagian dari upaya pengembangan inovasi berbasis teknologi, empat inkubator berbasis science techno park dari Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), IPB University, dan Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil memperoleh pendanaan internasional untuk mendukung pengembangan startup dan inovasi teknologi.

Kolaborasi Lintas Sektor sebagai Kunci Inovasi

Ketua Dewan Penasehat AIBI, Ir. Asril F. Syamas, M.Sc., menyampaikan bahwa inovasi besar hanya dapat lahir melalui kolaborasi yang kuat antarberbagai pihak.

Menurutnya, pemerintah memiliki peran sebagai fasilitator, pembuat kebijakan, dan penguat regulasi. Perguruan tinggi berperan sebagai pusat talenta serta penghasil inovasi berbasis deep-tech yang perlu semakin dekat dengan kebutuhan industri. Sementara itu, industri dan investor menjadi penghubung dalam penyediaan akses modal, pasar, serta validasi rantai pasok.

Dalam ekosistem tersebut, AIBI berperan sebagai penggerak yang mengorkestrasi kolaborasi antaraktor inovasi.

"Tidak ada inovasi besar tanpa kolaborasi besar. Kita membutuhkan eksekusi nyata untuk membangun kolaborasi dan inovasi bersama," ujar Asril.

Data UMKM dan Arah Pengembangan Kewirausahaan

Deputi Bidang Usaha Menengah Kementerian UMKM, Bagus Rachman, menyampaikan bahwa Perpres Nomor 2 Tahun 2022 tentang Pengembangan Kewirausahaan saat ini sedang dalam proses revisi dengan arah kebijakan yang semakin memperkuat startup dan kewirausahaan berbasis digital.

Berdasarkan data terbaru, jumlah UMKM yang terdata mencapai 59.519.650 unit usaha. UMKM masih didominasi oleh usaha mikro dan usaha non-badan hukum, dengan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 60,51 persen serta menyerap hingga 97 persen tenaga kerja.

Bagus juga menekankan pentingnya perubahan perspektif terhadap pelaku UMKM agar tidak hanya disebut sebagai "pelaku usaha", tetapi sebagai "pengusaha" yang memiliki potensi untuk berkembang dan naik kelas.

Salah satu program yang tengah dikembangkan adalah penguatan holding UMKM berbasis klaster pada berbagai sektor strategis, seperti perumahan rakyat, industri olahraga, kuliner, perkebunan, pertanian, handycraft, kesehatan, pertambangan, MBG, hingga pariwisata dengan memperhatikan prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance).

Dengan penguatan jejaring nasional, kolaborasi lintas sektor, serta perluasan kerja sama internasional, AIBI berkomitmen untuk terus menjadi penggerak utama dalam membangun ekosistem inkubator bisnis dan inovasi di Indonesia.

Sebagaimana pesan utama dalam Rakornas AIBI 2026, inovasi besar tidak akan lahir tanpa kolaborasi yang besar pula.